Cinta
dalam cerita dan realita
Hiasan manusia yang paling indah dan
membanggakan adalah cinta. Sedih jika berduka dan bahagia jika bersuka. Seorang
anak kecil pernah bertanya pada teman kecilnya, apakah roti?. Teman kecil itu
menjawab, roti adalah di atas keju.
Karena penasaran, anak kecil itupun bertanya lagi, kok di atas keju bukannya di
atas meja?. Teman kecil menjawab; karena
ibuku kalau menaruh roti pasti di atas keju, dan kejunya di atas meja. Tentu
bukan masalah keju yang akan memberi penjelasan tentang cinta. Apakah cinta?
Maka jawabnya adalah di atas keju dan kejunya di atas meja. Padahal jika di
lihat lebih jauh, meja tersebut di atas lantai, lantai di atas tanah, tanah di
atas laut dan laut di atas padas. Selama orang masih mencari cinta maka tidak
pernah ada habis makna yang terkandung. Mengapa?
Cinta adalah samudera biru yang luas
serta dalam dan tidak ada yang dapat menembus kecuali hanya sedikit. Ketika
manusia sudah tidak lagi memiliki rasa cinta maka yang akan muncul adalah
kerusakan yang mengerikan. Orang tua rela mengorbankan anaknya, atau anak rela
memakan daging orang tuanya. Tetangga haus tetangganya dan begitu sebaliknya.
Pemimpin menghisap darah rakyat dan rakyat membangkang pemimpinnya, ulama tega
terhadap santrinya dan santri durhaka pada gurunya. Tuhan ciptakan cinta
sebagai lambang kesahajaan, kedermawanan dan kebahagiaan. Cinta akan menggiring
manusia dalam ritme keselarasan hidup, karena cinta adalah bibit dari
keabadian. Cinta kepada Tuhan akan membuat manusia berharap keikhlasan dariNya
dalam menjalankan tugas hidup. Cinta pada utusan adalah mengikuti jejak dan
mendo’akannya. Cinta pada orang tua adalah membahagiakannya. Cinta pada anak
adalah memberi peluang terhadap anak untuk bahagia menurut apa yang di
kehendaki. Cinta pada kekasih adalah merelakan yang di cintai untuk hidup
bahagia tanpa pandang siapa yang akan membahagiakannya.
Di zaman percampuran global ini, sepertinya
cinta sudah menjadi kata yang usang. Korupsi menjadi- jadi, kriminal terus
meningkat, bom meledak, orang tua berlagak seperti Tuhan, anak yang sok jagoan,
kekasih hanya pada uang dan pecinta tersisih dalam kotak kehinaan. Jika cinta
telah lenyap dari muka bumi, maka hukum rimba akan menggantikannya. Yang kuat
menginjak yang lemah dan yang lemah menggerogoti yang kuat. Kesopanan dan
kearifan hanya warisan budaya. Bagaimana manusia bisa menjadi dan tetap arif?
Kearifan adalah milik Tuhan semata. Jika
manusia berkeinginan untuk bersifat arif maka ia harus berusaha untuk
mengetahui Tuhan. Barangsiapa yang ingin mengetahui Tuhannya maka ia harus
mengetahui haqiqat dirinya, dan siapapun yang telah memahami haqiqat dirinya
sendiri maka ia juga akan memahami orang lain. Pemahaman inilah yang harus di
mulai dari sekarang. “Mulailah dari diri sendiri dan cukuplah Tuhan yang
menjadi saksi”. Ketika sakit di pukul, maka jangan sekali- kali memukul
orang lain. Jika merasa senang di puji, maka pujilah orang. Pahami diri sendiri
dan perlakukan orang lain seperti perlakuan terhadap diri sendiri. Manusia yang
arif adalah manusia yang menyegaja untuk sadar diri dan selalu berusaha menjaga
kesadarannya. Manusia arif akan mengedepankan cinta dan kasih sayang, baik
terhadap dirinya sendiri lebih- lebih orang lain. Laksana lilin yang yang rela
terbakar hanya demi memberi penerangan terhadap sekitarnya (Ibnu Athoillah, Alhikam).
Memang tidak segampang apa yang tertera namun bagaimanapun itu, harus di coba.
Problema pelik dari dunia sekarang
adalah karena hilangnya haqiqat cinta dalam kehidupan. Kerusakan dan carutmarut
atau apapun yang membuat fenomena tersendiri dalam peradaban yang serba logika.
Yang tidak logis silakan minggir!. Padahal tidak semua yang terdapat dalam
kehidupan dapat di terima meskipun sekaliber logika profesor. Bahagia, cinta, dan kasih sayang
adalah di antaranya. Siapa yang dapat membuka tabir darinya?. Bukankah mustahil
menjelaskannya dengan kekuatan logika?. Mengapa harimau yang kejam tidak akan
memakan anaknya? mengapa ada bahagia
ketika mencinta dan di cinta? Atau mengapa ada sedih jika gagal dalam
memperoleh sesuatu? Apa sebenarnya semua ini? Tidak perlu bertanya lagi, karena
tidak akan pernah terjawab oleh siapapun!
Dari sinilah not- not kehidupan di mulai.
Tak peduli siapapun mereka pasti akan terjebak dalam jaring ini. Duduk sama
rata berdiri sama tinggi. Kesamaan inilah yang membuat makhluk hidup dapat
bertahan karena saling membutuhkan. Lebih- lebih manusia yang memiliki titel
makhluk paling sempurna. Yang mempunyai kemampuan untuk membedakan antara hitam
dan putih atau merah dan kuning. Sebaiknya kita menyingkirkan segala macam
kemunafikan tentang tidak perlunya manusia terhadap kebutuhan hati yang justru
sangat mendesak dan terus menerus hidup dalam jiwa. Bagaimanapun bentuknya
manusia, selama dia masih memiliki akal yang sempurna maka kebutuhan seperti
ini tidak akan terlepas dalam kehidupannya meskipun hanya sesaat.
Dari sinilah sebenarnya manusia harus
belajar memahami dan merasakan tentang arti dan hikmah yang dapat di ambil
setelahnya. Jika manusia berjalan di atas atau di bawah cinta dan kasih sayang,
maka tentu tidak akan ada lagi jerit tangis dari mulut- mulut mereka yang
merasa menderita atau yang terderita. Karena kenelangsaan adalah bukti bahwa
langkah yang di ambil hanya mengikuti keinginan yang tidak terdidik oleh nilai.
Pantas dan tidaknya perilaku manusia hanya dapat dipandang oleh seberapa
manusia dapat merealisasikan cinta untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Nilai
tidak terbatas dan tidak terikat dengan apapun yang ada di sekelilingnya. Akan
tetapi, nilai dapat di telaah melalui apa yang di hasilkan dari perjalanan
seseorang. Arti nilai berujung pada ungkapan pantas, bukanlah antara baik dan buruk. Jadi, nilai tidak berlaku
pada hukum apapun melainkan terikat pada diri sendirinya. Untuk itu di butuhkan
kekuatan spiritual dari setiap organ kehidupan manusia.
Hormati yang tua dan sayangi yang muda!
( Alhadits). Ketergantungan manusia satu dengan yang lain adalah bagian
dari fitrah kehidupan. Saling asih dan saling sayang untuk mendapatkan
kehidupan yang layak merupakan realisasi dari kehidupan di bawah satu payung,
yaitu cinta dan belas kasih Tuhan. Entah bagian yang mana kita akan
mendapatkannya karena yang penting adalah kita dapat merasakan bahwa betapa
luasnya arti cinta lebih- labih cinta sang Tuhan pada makhluknya. Jalan cinta
memang banyak akan tetapi jalan bahagia adalah satu yaitu, cinta. Pemanfaatan
cinta dalam kehidupan akan membawa manusia pada titik keselarasan hidup yang
tidak terbatas pada keterikatan terhadap sesuatu yang ada di alam raya ini
kecuali Tuhan. Wahai para pecinta yang
agung, agungkan dirimu dengan cinta yang benar- benar mengagungkan cinta dalam
fitrah kehidupan, di alam saat ini ataupun di alam nanti. Maha suci Tuhan yang
tiada bandingan atas segala anugerah yang di hamparkan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar