Wujud dari sebuah
kehidupan adalah persamaan hak dalam memperoleh apa yang di inginkan. Hak
merupakan sebuah fenomena yang tidak dapat di tolak oleh siapapun. Karena
merupakan hukum Tuhan yang secara pasti telah menjadi akar dari kehidupan di
alam dunia ini. Pengingkaran terhadap hak adalah kedhaliman yang nyata.
Meskipun tidak dapat di definisikan secara spesifik, hak dapat di rasakan oleh
setiap makhluk hidup. Tidak hanya manusia, hewan dan tumbuhan juga memiliki hak
yang sama dalam kebersamaan hidup dalam satu komunitas, yaitu bumi.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling
sempurna. Kesempurnaan itu dapat di buktikan melalui apa yang melekat meskipun
baru di lahirkan. Akal, perasaan, jiwa, kehendak, dan potensi- potensi lahiriah
lainnya merupakan bekal manusia dalam menjalankan amanat Tuhan sebagai
khalifah. Dari bekal itulah manusia dapat mengembangkan kehidupannya menjadi
lebih baik. Bermula bodoh menjadi pandai, miskin menjadi kaya, takut menjadi
berani, hina menjadi mulya. Pelaksanaan hidup manusia akan mengalami beberapa
tingkatan. Korelasi yang terjadi antara hidup dan pelaksanaannya dapat menjadi
petunjuk betapa manusia sangat berpotensi pada sikap yang bijaksana.
Pada dasarnya dengan potensi manusia dapat
mencapai titik kesempurnaan. Namun, sebesar apapun potensi yang di miliki juga
tidak akan cukup untuk memperolehnya. Itu membutuhkan kesempatan berupa waktu
dan tempat serta orang lain yang dapat mendukung. Untuk itulah manusia di sebut
makhluk sosial yang hanya dapat hidup di sebuah komunitas. Kesempatan tidak
hanya harus di cari tapi juga harus di berikan. Oleh sebab itu, pantas jika
banyak orang yang mencari kesempatan, akan tetapi sampai pada titik akhir tugas
hidup belum memperolehnya. Karena apa?. Bukan karena tidak bersungguh- sungguh
melainkan ketiadaannya orang lain yang mengulurkan tangan.
Dalam kehidupan nyata, tidak kurang manusia
mencari jalan dan arah untuk dapat mengembangkan dan mengarahkan potensi yang
di miliki, tetapi tidak jarang pula yang harus kembali dengan kekecewaan.
Mereka tidak malas! Melainkan karena sikap egoisme manusia lain yang memonopoli
keberhasilan. Tidak ada manusia yang puas dengan apa yang di peroleh. Hal ini
membangkitkan rasa AKU di dalam segala keputusan hidupnya. AKU dalam jiwa
manusia merupakan pecahan dari diri manusia itu sendiri. Maka pantas jika
manusia bertindak tanpa pandang orang lain karena yang di inginkan adalah AKU.
AKU adalah hak yang di peroleh setiap
manusia dari Tuhan yang mengikat dan mengalir pada hukum alam. Perak tidak akan
mencukupi AKUnya manusia kecuali di
tambah emas. Padahal emaspun tidak akan mencukupi hausnya AKU tanpa permata dan
begitulah seterusnya. Bagimana manusia menerapkan AKUnya? . Setiap manusia
memiliki AKU dan juga berusaha untuk menerapkan dalam kehidupan. Di sini akan
terjadi gesekkan antara AKUnya satu manusia dengan yang lain.
AKU dalam manusia adalah air jernih dan
selalu mengikuti warna cawan yang menampungnnya. Hati adalah cawan yang rentan putih,
hitam, kuning ataupun hijau. Hati membutuhkan asupan gizi berupa ilmu dan
pengalaman. Dengan ilmu, hati akan memahami apa yang telah, sedang dan akan
terjadi. Dengan pengalaman, hati dapat merasakan dari pemahaman ilmu. Jika
keduanya meresap di dalam hati seseorang, maka yang akan mencengkeram adalah
kesalehan haqiqi.
Tidak
ada di dunia ini sesuatu yang sia- sia. Meskipun Tuhan menciptakan manusia berbeda- beda akan
tetapi yang penting di perhatikan adalah bahwa Tuhan memberi semua manusia
kesempatan yang sama. Tidak peduli latar belakang manusia tersebut di lahirkan
dari orang kaya, pejabat, miskin, melarat, pandai, ataupun bodoh. Titik
kesamaan manusia ini tidak akan dapat berjalan tanpa kendaraan yang mengikat
berupa hukum alam. Jadi, jika di lahirkan dari orang kaya akan cenderung
menjadi orang kaya pula. Secara logis, anak orang kaya akan mudah mendapatkan
modal dari orang tuanya jika hendak berbisnis. Lain halnya dengan orang yang
miskin, meskipun kesempatan itu sama, akan tetapi tingkat rintangan yang
berbeda. Di sinilah letak bahwa kesempatan juga harus di berikan bila ingin
kehidupan sosial ini berjalan dengan wajar. Dunia adalah tempat kehidupan,
kebersamaan yang saling membutuhkan, maka berilah sekelilingmu kesempatan maka engkau
akan mendapatkan bagian dari kesempatan itu!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar