Minggu, 11 September 2011

Beri kesempatan sekali saja!



Wujud dari sebuah kehidupan adalah persamaan hak dalam memperoleh apa yang di inginkan. Hak merupakan sebuah fenomena yang tidak dapat di tolak oleh siapapun. Karena merupakan hukum Tuhan yang secara pasti telah menjadi akar dari kehidupan di alam dunia ini. Pengingkaran terhadap hak adalah kedhaliman yang nyata. Meskipun tidak dapat di definisikan secara spesifik, hak dapat di rasakan oleh setiap makhluk hidup. Tidak hanya manusia, hewan dan tumbuhan juga memiliki hak yang sama dalam kebersamaan hidup dalam satu komunitas, yaitu bumi.
      Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Kesempurnaan itu dapat di buktikan melalui apa yang melekat meskipun baru di lahirkan. Akal, perasaan, jiwa, kehendak, dan potensi- potensi lahiriah lainnya merupakan bekal manusia dalam menjalankan amanat Tuhan sebagai khalifah. Dari bekal itulah manusia dapat mengembangkan kehidupannya menjadi lebih baik. Bermula bodoh menjadi pandai, miskin menjadi kaya, takut menjadi berani, hina menjadi mulya. Pelaksanaan hidup manusia akan mengalami beberapa tingkatan. Korelasi yang terjadi antara hidup dan pelaksanaannya dapat menjadi petunjuk betapa manusia sangat berpotensi pada sikap yang bijaksana.
     Pada dasarnya dengan potensi manusia dapat mencapai titik kesempurnaan. Namun, sebesar apapun potensi yang di miliki juga tidak akan cukup untuk memperolehnya. Itu membutuhkan kesempatan berupa waktu dan tempat serta orang lain yang dapat mendukung. Untuk itulah manusia di sebut makhluk sosial yang hanya dapat hidup di sebuah komunitas. Kesempatan tidak hanya harus di cari tapi juga harus di berikan. Oleh sebab itu, pantas jika banyak orang yang mencari kesempatan, akan tetapi sampai pada titik akhir tugas hidup belum memperolehnya. Karena apa?. Bukan karena tidak bersungguh- sungguh melainkan ketiadaannya orang lain yang mengulurkan tangan.
          Dalam kehidupan nyata, tidak kurang manusia mencari jalan dan arah untuk dapat mengembangkan dan mengarahkan potensi yang di miliki, tetapi tidak jarang pula yang harus kembali dengan kekecewaan. Mereka tidak malas! Melainkan karena sikap egoisme manusia lain yang memonopoli keberhasilan. Tidak ada manusia yang puas dengan apa yang di peroleh. Hal ini membangkitkan rasa AKU di dalam segala keputusan hidupnya. AKU dalam jiwa manusia merupakan pecahan dari diri manusia itu sendiri. Maka pantas jika manusia bertindak tanpa pandang orang lain karena yang di inginkan adalah AKU.
       AKU adalah hak yang di peroleh setiap manusia dari Tuhan yang mengikat dan mengalir pada hukum alam. Perak tidak akan mencukupi AKUnya manusia  kecuali di tambah emas. Padahal emaspun tidak akan mencukupi hausnya AKU tanpa permata dan begitulah seterusnya. Bagimana manusia menerapkan AKUnya? . Setiap manusia memiliki AKU dan juga berusaha untuk menerapkan dalam kehidupan. Di sini akan terjadi gesekkan antara AKUnya satu manusia dengan yang lain.
        AKU dalam manusia adalah air jernih dan selalu mengikuti warna cawan yang menampungnnya. Hati adalah cawan yang rentan putih, hitam, kuning ataupun hijau. Hati membutuhkan asupan gizi berupa ilmu dan pengalaman. Dengan ilmu, hati akan memahami apa yang telah, sedang dan akan terjadi. Dengan pengalaman, hati dapat merasakan dari pemahaman ilmu. Jika keduanya meresap di dalam hati seseorang, maka yang akan mencengkeram adalah kesalehan haqiqi.
              Tidak ada di dunia ini sesuatu yang sia- sia. Meskipun  Tuhan menciptakan manusia berbeda- beda akan tetapi yang penting di perhatikan adalah bahwa Tuhan memberi semua manusia kesempatan yang sama. Tidak peduli latar belakang manusia tersebut di lahirkan dari orang kaya, pejabat, miskin, melarat, pandai, ataupun bodoh. Titik kesamaan manusia ini tidak akan dapat berjalan tanpa kendaraan yang mengikat berupa hukum alam. Jadi, jika di lahirkan dari orang kaya akan cenderung menjadi orang kaya pula. Secara logis, anak orang kaya akan mudah mendapatkan modal dari orang tuanya jika hendak berbisnis. Lain halnya dengan orang yang miskin, meskipun kesempatan itu sama, akan tetapi tingkat rintangan yang berbeda. Di sinilah letak bahwa kesempatan juga harus di berikan bila ingin kehidupan sosial ini berjalan dengan wajar. Dunia adalah tempat kehidupan, kebersamaan yang saling membutuhkan, maka berilah sekelilingmu kesempatan maka engkau akan mendapatkan bagian dari kesempatan itu!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar