Antara kebodohan,
keputus-asaan dan kebohongan
Sepertinya islam adalah agama yang
identik dengan pedang dan darah. Bom, makar dan pembunuhan atas nama islam di
anggap sebuah amal suci. Ada apa dengan
islam?. sebuah pertanyaan yang sering terdengar dan juga sering di abaikan.
Setiap bicara islam maka yang terbayang di benak adalah ke-ngerian dan
ketakutan. Padahal masih banyak yang menerapkan islam tanpa kekerasan. Islam
adalah agama rahmat, begitupun Muhammad SAW dalam menyampaikannya. Terdapat tiga faktor munculnya islam radikal
yaitu; kebodohan, keputus-asaan dan
kebohongan.
Kebodohan, Umat islam terjebak dalam
kebodohan yang nyata baik dari tingkat peradaban ataupun segala- galanya. Akar
kebodohan telah membudaya menjadi tradisi yang sangat di kagumi. Akan tetapi
terlepas dari masalah di atas, akar masalah yang paling pokok adalah jauhnya
umat islam dari islam itu sendiri. Bagaiamana bisa, seperti Indonesia, yang
mayoritas islam, umatnya tidak dapat membaca Alquran dengan fasih. Dan ini
fakta yang tidak dapat di pungkiri.
Keputus- asaan, sejak jatuhnya
kekholifahan dinasti Ottaman di Turki, umat islam seperti anak ayam kehilangan induk dan sampai dengan sekarang, umat
islam masih saja belum dapat bangkit dari keterpurukkan. Islam selalu di nomor-dua-kan
oleh dunia sehingga menimbulkan kecemburuan sosial yang mendalam.. Akan tetapi
karena tidak berdaya untuk berbuat, maka wajar jika ekspresi yang timbul
menjadi sesuatu yang seadanya. Dendam, dan keangkaramurkaan menjadi bagian dari
kehidupan sehari- hari. Alih- alih kaum muslimin memimpikan kejayaan masa lalu.
Hayalan- hayalan dalam ketidakberdayaan membangkitkan kemarahan tanpa batas. Oleh karena antar umat
islam merasakan hal yang sama maka kemudian terbentuklah menjadi sebuah gerakan komunitas orang tak berdaya.
Dengan ketidak berdayaan tersebut menyulut sikap radikalisme. Karena menganggap
tidak ada jalan lain kecuali perang. Ayat- ayat perangpun di dendangkan di
telinga kaum muslim lainnya untuk menggugah semangat keislaman melalui jihad
mengangkat senjata.
Kebohongan, kemunculan radikalisme dalam islam memang
sudah sejak berabad- abad lalu adanya. Dan itu, tidak bisa di salahkan
sepenuhnya karena kaum muslim sendiri.
Tetapi juga terdapat konspirasi
yang sengaja menghidupkannya oleh oknum-
oknum yang menginginkan keuntungan dari kebencian islam baik secara politik,
ekonomi ataupun yang lain. Hal tersebut dapat di buktikan dengan harga minyak yang
terus melonjak karena ketidakstabilan keamanan melalui isu terorisme di timur
tengah yang merupakan sumber minyak tak terbandingi. Alih –alih negara penjual
minyak yang di untungkan. Seharusnya umat islam sadar bahwa ke radikalan mereka
justru menguntungkan negara- negara penjual minyak yang sama sekali tidak ada
kaitannya dengan agama tertentu. Dan yang perlu di perhatikan adalah negara
penjual minyak justru akan mengumbar kebencian supaya umat islam semakin geram dan membalas dengan kekacauan. Karena semakin
kacau maka semakin banyak pula keuntungan yang di peroleh. Selain itu,
kekacauan juga dapat membentuk kekuatan terhadap hegemoni negara- negara
adikuasa karena kekacauan merupakan fakta bahwa umat islam secara politis masih
lemah dan tidak menjadi ancaman bagi keserakahan mereka. Apakah umat islam
belum sadar?.
Hal yang harus di lakukan umat islam
adalah jangan terjebak oleh suasana yang
sengaja di sulut untuk membakar amarah. Karena itu justru akan membawa umat
islam sendiri kedalam jebakan yang telah di persiapkan. Mereka lebih takut
dengan kemiskinan daripada ledakan nuklir sekalipun. Pemertahanan hegemoni dan
politik ekonomi luar negeri adalah Tuhan baru bagi mereka tanpa peduli tentang
nilai agama.
Hal semacam ini memerlukan pembenahan yang
insentif dari para ulama yang sama sekali tidak mempunyai kepentingan tertentu
untuk menghindari mentor- mentor mata duitan. Memang pemahaman awal terhadap
sesuatu tidak gampang untuk di arahkan pada pemahaman lain sekalipun itu lebih
mendekati kebenaran. Di sinilah letak kesulitan para pencerah dalam menuntun
umat kembali pada nilai fitrah sebuah agama. Teroris atau sebangsanya misalkan,
karena awal pemahaman mereka tentang jihad seperti itu maka sangat sulit untuk
mengartikan jihad dengan makna lain. Jalan terbaik adalah menyerukan terhadap
mereka untuk tetap belajar tentang islam
dan jangan setengah- setengah. Karena itu, hanya akan membentuk
kesimpulan yang ngawur. “Wahai kaum muslim marilah kita kembali pada
fitrah Islam yang haqiqi”. Yaitu islam yang mengagungkan ilmu dan
merendahkan kebodohan.