Jumat, 09 Maret 2012

Islam Radikal, Kumpulan Orang- orang Bodoh!


 
Antara kebodohan, keputus-asaan dan kebohongan

         Sepertinya islam adalah agama yang identik dengan pedang dan darah. Bom, makar dan pembunuhan atas nama islam di anggap sebuah amal suci. Ada apa dengan islam?. sebuah pertanyaan yang sering terdengar dan juga sering di abaikan. Setiap bicara islam maka yang terbayang di benak adalah ke-ngerian dan ketakutan. Padahal masih banyak yang menerapkan islam tanpa kekerasan. Islam adalah agama rahmat, begitupun Muhammad SAW dalam menyampaikannya.  Terdapat tiga faktor munculnya islam radikal yaitu;  kebodohan, keputus-asaan dan kebohongan.
    Kebodohan, Umat islam terjebak dalam kebodohan yang nyata baik dari tingkat peradaban ataupun segala- galanya. Akar kebodohan telah membudaya menjadi tradisi yang sangat di kagumi. Akan tetapi terlepas dari masalah di atas, akar masalah yang paling pokok adalah jauhnya umat islam dari islam itu sendiri. Bagaiamana bisa, seperti Indonesia, yang mayoritas islam, umatnya tidak dapat membaca Alquran dengan fasih. Dan ini fakta yang tidak dapat di pungkiri.
      Keputus- asaan, sejak jatuhnya kekholifahan dinasti Ottaman di Turki, umat islam seperti anak ayam  kehilangan induk dan sampai dengan sekarang, umat islam masih saja belum dapat bangkit dari keterpurukkan. Islam selalu di nomor-dua-kan oleh dunia sehingga menimbulkan kecemburuan sosial yang mendalam.. Akan tetapi karena tidak berdaya untuk berbuat, maka wajar jika ekspresi yang timbul menjadi sesuatu yang seadanya. Dendam, dan keangkaramurkaan menjadi bagian dari kehidupan sehari- hari. Alih- alih kaum muslimin memimpikan kejayaan masa lalu. Hayalan- hayalan dalam ketidakberdayaan membangkitkan  kemarahan tanpa batas. Oleh karena antar umat islam merasakan hal yang sama maka kemudian terbentuklah menjadi sebuah gerakan komunitas orang tak berdaya. Dengan ketidak berdayaan tersebut menyulut sikap radikalisme. Karena menganggap tidak ada jalan lain kecuali perang. Ayat- ayat perangpun di dendangkan di telinga kaum muslim lainnya untuk menggugah semangat keislaman melalui jihad mengangkat senjata.
       Kebohongan,  kemunculan radikalisme dalam islam memang sudah sejak berabad- abad lalu adanya. Dan itu, tidak bisa di salahkan sepenuhnya karena kaum muslim sendiri.  Tetapi  juga terdapat konspirasi yang sengaja  menghidupkannya oleh oknum- oknum yang menginginkan keuntungan dari kebencian islam baik secara politik, ekonomi ataupun yang lain. Hal tersebut  dapat di buktikan dengan harga minyak yang terus melonjak karena ketidakstabilan keamanan melalui isu terorisme di timur tengah yang merupakan sumber minyak tak terbandingi. Alih –alih negara penjual minyak yang di untungkan. Seharusnya umat islam sadar bahwa ke radikalan mereka justru menguntungkan negara- negara penjual minyak yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama tertentu. Dan yang perlu di perhatikan adalah negara penjual minyak justru akan mengumbar kebencian supaya umat islam semakin geram  dan membalas dengan kekacauan. Karena semakin kacau maka semakin banyak pula keuntungan yang di peroleh. Selain itu, kekacauan juga dapat membentuk kekuatan terhadap hegemoni negara- negara adikuasa karena kekacauan merupakan fakta bahwa umat islam secara politis masih lemah dan tidak menjadi ancaman bagi keserakahan mereka. Apakah umat islam belum sadar?.
       Hal yang harus di lakukan umat islam adalah jangan terjebak oleh  suasana yang sengaja di sulut untuk membakar amarah. Karena itu justru akan membawa umat islam sendiri kedalam jebakan yang telah di persiapkan. Mereka lebih takut dengan kemiskinan daripada ledakan nuklir sekalipun. Pemertahanan hegemoni dan politik ekonomi luar negeri adalah Tuhan baru bagi mereka tanpa peduli tentang nilai agama.
     Hal semacam ini memerlukan pembenahan yang insentif dari para ulama yang sama sekali tidak mempunyai kepentingan tertentu untuk menghindari mentor- mentor mata duitan. Memang pemahaman awal terhadap sesuatu tidak gampang untuk di arahkan pada pemahaman lain sekalipun itu lebih mendekati kebenaran. Di sinilah letak kesulitan para pencerah dalam menuntun umat kembali pada nilai fitrah sebuah agama. Teroris atau sebangsanya misalkan, karena awal pemahaman mereka tentang jihad seperti itu maka sangat sulit untuk mengartikan jihad dengan makna lain. Jalan terbaik adalah menyerukan terhadap mereka untuk tetap belajar tentang islam  dan jangan setengah- setengah. Karena itu, hanya akan membentuk kesimpulan yang ngawur. “Wahai kaum muslim marilah kita kembali pada fitrah Islam yang haqiqi”. Yaitu islam yang mengagungkan ilmu dan merendahkan kebodohan.  
        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar