Sabtu, 24 Agustus 2013

Doktrin Kebenaran VS Logika Kebenaran



Penalaran yang salah terhadap sesuatu seringkali menjadikan kesimpulan dan keyakinan yang kurang pas. Ini tidak terkecuali terjadi dalam Islam. jargon rahmatan lil ‘alamin sering menjadi dalih ampuh untuk menolak argumen musuh ( lebih tepatnya dianggap musuh). Penalaran tentang rahmatan lil ‘alamin diasumsikan sebagai doktrin yang mengikat dan memaksa. Sehingga dalam aplikasi di lapangan, Islam tidak saja memberi jalan kebenaran akan tetapi juga sebagai keharusan kebenaran. Kebenaran mutlak yang tidak boleh dibantah oleh siapapun dan dengan analisa apapun. tidak boleh dikritik apalagi dilawan. Seolah-olah islam adalah algojo yang menakutkan.

Apakah arti rahmat adalah kebenaran? Tentu harus dibedakan antara kata rahmat dan kebenaran. Rahmat yang secara bahasa sering diartikan sebagai kasih sayang sudah pasti akan berbeda aplikasinya jika disandingkan dengan kebenaran. Jadi rahmatan lil ‘alamin memang tidak pas jika diaplikasikan sebagai doktrin kebenaran yang harus diterima oleh siapapun.

Disisi lain, rahmatan lil ‘alamin jika dibandingkan dengan penalaran bahwa Islam adalah inspirasi kebenaran yang menggerakkan logika kebenaran. Arti logika kebenaran adalah Islam yang menjadi pemandu dalam memperoleh kebenaran sehingga konstituen benar-benar menerima Islam dengan penuh kesadaran. Tanpa kebodohan akibat paksaan.

Komparasi antara penalaran doktrin kebenaran dan logika kebenaran, maka sangat jauh panggang dari api. Kebenaran agama adalah hal yang tidak begitu saja dapat diterima. Ini karena agama merupakan bagian dari keyakinan yang digerakkan oleh perasaan manusia. Anak yang dilahirkan dari orang tua yang muslim kemungkinan besar dia akan menjadi muslim juga. Tetapi apakah kualitas keislaman anak dapat dikatakan sama dengan orang tuanya?. Disinilah logika kebenaran akan sangat terasa. Perbandingan Islam yang diyakini atas dasar bimbingan orang tua dengan keputusan menjadi pemeluk setia atas dasar kesadaran dapat dibedakan. 

Walau bagaimanapun bagian dari prinsip empirisme tidak dapat diabaikan begitu saja. Interaksi orang tua dan anak menjadikan hal yang paling berpengaruh dalam menentukan anak dalam memutuskan agama apa yang akan dia peluk. Meskipun manusia terlahir fitrah ( berpotensi ) tapi tidak begitu saja menjadi kompetensi. Tentunya, memerlukan interaksi yang kuat untuk dapat mengeluarkan potensi menjadi kompetensi. Jadi jelas, tingkat keislaman anak tersebut bisa dikatakan hanya sebab orang tua yang muslim.

Lain halnya dengan ketika seorang yang memeluk Islam karena sesuatu yang membuat dia kagum. Ahli sains yang meneliti obyek yang ada didalam dunia dan menemukan kesimpulan yang tepat. Ternyata kesimpulan tersebut telah lebih dulu diutarakan oleh islam. bagaimana mungkin Islam yang turun sebelum berkembangnya sains dapat memberi kesimpulan tanpa melakukan eksperimen? sontak tingkat kesadarannya akan kebenaran islam mendorong rasa dan akalnya untuk membenarkan kebenaran yang terdapat dalamnya. Kesadaran terhadap Islam seperti ini tentu tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. 

Kesadaran-kesadaran inilah sebenarnya yang diinginkan oleh Tuhan terhadap hamba-hambaNya. Hal itu terbukti, menurut penelitian Ibnu Rusyd, bahwa ayat-ayat Alqur’an yang memuat perintah untuk menggunakan daya berfikir lebih banyak daripada perintah ibadah atau yang lain. Tuhan menjadikan jagad raya sebagai bahan penelitian untuk menemukan kebenaran. Tuhan mengarahkan manusia untuk menjadikan kesadaran terhadap Islam tidak hanya Islam sebagai jalan kesadaran.

Islam sebagai logika kebenaran merupakan bagian terpenting dari aplikasi rahmatan lil ‘alamin. Jadi Islam, adalah agama yang memberikan kebebasan terhadap manusia untuk menemukan kebenarannya. Islam sangat menyayangi manusia sehingga untuk menjadikan sebagai pemeluknya, harus dengan kesadaran tanpa paksaan. Ini sebagai bukti bahwa Islam sangat menjujung tinggi martabat manusia. Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Yang memanusiakan manusia sebagai makhluk yang dapat berfikir. Bukan memperbudak manusia laksana hewan yang tidak dapat berfikir.

Senin, 03 Juni 2013

PESAN TAK TERSAMPAIKAN

Antusius, Spirit, Etika Dan Peresapan Islam Dalam Wacana Modernisasi

*** Refleksi Pemikiran Nurcholish Madjid 

  a. Caknur Dan Kontroversi
      Mungkin jarang yang mengenal nama Nurcholish Madjid di kalangan khalayak awam. Akan tetapi bagi kaum akademis, CakNur (begitu beliau akrab di panggil) merupakan nama yang sangat familiar. Karena mungkin beliau terlalu sering bersemedi di kampus- kampus di antara tumpukan buku. Akan tetapi hal yang paling penting adalah karena gagasan- gagasan beliau yang banyak menimbulkan pro-kontra di kalangan para cendekiawan baik muslim maupun non muslim. 
     Kontroversi gagasan-gagasan beliau tentang Sekularisasi, melalui jargon “Islam Yes! Partai Islam No!” dan Islam Inklusif serta sederet gagasan yang seabrek-abrek. Apa sebenarnya pesan yang tersimpan dari CakNur melalui gagasan- gagasannya? CakNur bukan orang liberal sekalipun banyak orang yang menilai beliau adalah agen liberal.
1. Sekularisasi 
      Salah satu jargon yang dipakai CakNur adalah “Islam Yes! Partai Islam No!”. Gagasan ini memang mirip dengan gerakan sekulerisme yang pernah terjadi pada saat Revolusi Industri di Eropa. Di Eropa gagasan sekularisme bermula karena otoritas gereja yang melebihi Tuhan sehingga timbul gejolak yang luar biasa dan memancing arus besar yang bernama skularisme, yaitu pemisahan antara gereja dan negara. Tokoh yang paling terkenal dalam revolusi ini adalah Jhon Locke. Sedangkan bagi CakNur, pemisahan agama dan negara hanya pada instansi bukan subtansi. 
      Oleh sebab itu beliau sangat setuju dengan Idelogi Nasional Indonesia yaitu, Pancasila. Sila yang menjadi rujukan adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, yang menurutnya jelas- jelas menunjukkan hubungan tak terpisahkan antara agama dan negara. Jadi meskipun Indonesia adalah negara sekular tetapi tetap berpedoman pada nilai- nilai keTuhanan. Lebih mudahnya adalah agama sebagai spirit dari negara. Inilah bedanya CakNur dengan Eropa. 
2. Islam Inkslusif 
      Islam dalam pemikiran CakNur adalah terbuka baik terhadap masalah sosial, politik, ekonomi maupun masalah- masalah lain. Islam bukan agama yang tertutup dan tidak mau tahu tentang problem kemanusiaan. Pemikiran ini berimbang dengan pemikiran Hasan Turabi( Syiria) atau pemikir lain yang menjadikan nilai kemanusiaan sebagai landasan dalam menentukan substansi hukum. Selain itu CakNur juga sangat mendukung gagasan Ibnu Taimiyah tentang seruan kembali kepada Alquran dan Hadits. Tetapi apa yang CakNur pahmai dari Ibnu Taimiyah tidak di pahami seperti pemahaman kaum Ekstrimis. 
      Menurut CakNur, ajakan tersebut berujung pada pemahaman ulang tentang isi Alquran dan Hadits dengan tetap mengambil panduan dari tradisi ulama’ salaf bukan kembali secara radikal dan tidak mau menerima sesuatu yang baru. Karena pemahaman ulang tersebut bertujuan untuk memberi bimbingan dan sikap terhadap masalah baru yang tidak dapat di tolak lagi seperti tentang fenomena dunia modern dan imbasnya. 
      Dalam pandangan CakNur, dan memang fakta yang terjadi, bahwa pendapat ulama yang telah memahami Alquran dan Hadits pada masa lalu memerlukan pengembangan lagi, lebih – lebih masalah kaedah hukum kehidupan sosial. Tentu, karena efek globalisasi yang kemungkinan tidak dapat dibendung. Jadi maksud kembali pada Quran dan hadits bukan kembali ke masa lalu melainkan memahaminya untuk menjawab dan memberi sikap sebagai agama yang universal. 
     Pada suatu saat, CakNur juga mengatakan bahwa pada dasarnya semua agama benar dan masuk syurga bagi siapapun yang menjalankannya dengan ikhlas dan hanif. Ini sangat kontroversial dengan padangan tokoh lain yang berpedoman pada tidak ada agama yang di anggap kecuali hanya islam. Padahal di saat yang lain, beliau dengan tegas dan tanpa ragu memuji Islam sebagai agama pemimpin dan rahmah bagi seluruh alam. Bagaimana sebenarnya maksud beliau?. Islam bukan satu-satunya agama yang berhak mengaku benar menurut beliau ( dalam persepsi penulis), adalah dalam konteks duniawi yang tidak akan dapat berjalan wajar jika di berlandaskan fanatisme. Karena jelas bahwa Alquran memberi statement bahwa dunia tidak di jadikan satu warna. Untuk itu pluralisme adalah sesuatu yang tidak dapat di tolak lagi. Ini sangat berbeda dengan pluralisme yang terdapat pada kaum liberal. CakNur menganggap pluralisme adalah keselarasan kehidupan dunia bukan men-generalkan semua dalam persatuan tanpa perbedaan. 
      Pendapat CakNur sepertinya terinspirasi dari tradisi Akhlak Salaf Shalih, karena memang beliau selain menguasai dan di pengaruhi keilmuan modern juga keilmuan salaf/klasik yang banyak terdapat pada kitab- kitab kuning melalui pendidikannya di pesantren. Gagasan beliau adalah gabungan dari keilmuan klasik dan modern sehingga seakan tampak aneh bagi khalayak umum bahkan cendekiawan lain sekalipun. 
      Meskipun pendapat beliau sangat brilian, akan tetapi terdapat juga pendapat yang sangat rawan terhadap kemafsadatan di antaranya tentang jilbab. Beliau menganggap bahwa jilbab adalah produk budaya, sehingga jilbab tidak lagi berhukum wajib. Hukum wajib menurut Syariat adalah menutup aurat. Sedangkan aurat adalah bagian – bagian tubuh yang dapat memantik nafsu syahwat. Bagi Bangsa Arab, suara,buah dada dan wajah wanita adalah aurat. Tetapi bagi bangsa indonesia ( khususnya Jawa), wajah dan sketsa buah dada yang muncul dari balik pakaian bukan aurot karena sudah menjadi tradisi berpakain dengan hanya separuh badan lebih. Ini bisa dilihat pada tradisi pakaian keraton. Ini sangat rawan!. Bagaimana jadinya Islam tanpa jilbab?. 
     Di akui atau tidak, di masa sekarang, jilbab sudah menjadi proyek fashion, yang di pakai tidak hanya kaum muslimah melainkan umum. Bahkan tidak jarang yang memakai justru jauh dari tujuan jilbab secara utuh. Ini sangat merugikan terhadap citra Islam. Meskipun begitu, bukan berarti statement CakNur dapat di benarkan sepenuhnya. Karena pendapat tersebut seharusnya muncul pada masa Islam pertama di Jawa atau Indonesia. Memang pada masa pra Islam, pakaian separuh badan bagi wanita adalah tradisi dan sudah di sesuaikan dengan Islam menjelang kedatangannya. Dan pada persesuaiannya tidak menghilangkan jilbab. Ini (dengan jilbab) sudah menjadi budaya baru bagi muslimah dan sudah menjadi tradisi sampai dengan sekarang. Budaya yang di lihat CakNur adalah budaya sebelum islam masuk, maka tidak dapat di jadikan sebagai dasar hukum setelah berabad- abad datangnya Islam. Jadi jelas, pandangan CakNur juga menjadi usang!. 
b. Pesan Tak Tersampaikan 
     Bagi seorang cendekiawan, sesuatu disampaikan harus melalui kearifan dan kesantunan. Begitu juga CakNur dalam menyampaikan pesan tersembunyi melalui gagasan- gagasan yang mungkin membuat orang lain geregetan. Bukan itu sebenarnya yang di maksud CakNur. Jika memahami dan menangkap apa yang disusun dalam gagasannya, pesan yang tersimpan CakNur adalah tentang keselarasan hidup yang mau atau tidak, berkutat dalam kehidupan sosial. Manusia hidup pasti membutuhkan orang lain. Oleh sebab itu keberadaan orang lain di sekeliling sangat menentukan bagaimana hidup manusia itu sendiri. Manusia yang tidak mampu menguasai diri sendiri di tengah- tengah orang lain, maka akan menjadikan dirinya sebagai umpan bagi orang lain. Begitu juga umat islam, jika kebekuan dan keangkuhannya selama ini belum bisa mencair maka binasalah Islam untuk selama- lamanya. 
      Pluralisme adalah hal yang tidak dapat di tolak lagi. Keseimbangan hidup dalam kehidupan sosial untuk menuju kehidupan hakiki (akhirat) merupakan titik akhir dari makna Islam. Islam adalah agama yang memberi kasih sayang terhadap semua yang ada di jagad raya, baik makhluk ataupun perilakunya. Tak terkecuali, Agama sebagai bagian dari perilaku manusia, tidak peduli agama apapun harus di ayomi oleh Islam. Sebagai agama yang universal, Islam harus bisa legowo menerima agama- agama lain yang mungkin secara ajaran sangat bertentangan. Di sini, di butuhkan sikap yang dewasa dari umat Islam. Pendewasaan Islam, menurut CakNur, merupakan ujung tombak bagi kemandirian Islam supaya terlepas dari hegemoni umat lain yang sudah menguasai dunia. Selama ini umat Islam masih mengekor dengan isu- isu yang sengaja di tebarkan oleh orang lain untuk mempertahankan hegemoni mereka. 
      Perlu kesadaran yang sempurna, dalam memahami perubahan dari satu pos peradaban ke pos selanjutnya. Semakin maju, semakin banyak pula masalah yang harus di selesaikan. Ini harus di lakukan dengan memecah kebekuan yang telah lama mengikat. Untuk itu, dengan mengutip Ibnu Taimiyah tentang kembali pada Alquran dan Hadits, adalah langkah keselanjutan untuk merekontruksi ulang kaedah hukum Islam dalam peradaban modern tanpa meninggalkan tradisi yang masih memberi manfaat. 
     Sekularisasi ataupun Islam Inklusif adalah sebuah gagasan yang menyimpan makna Pluralisme. Dalam kehidupan ini tidak pantas merasa paling unggul diantara sesama. Karena yang paling mulia adalah orang yang paling bertaqwa dan hanya Allah-lah yang mengetahui tingkat ketaqwaan seseorang. Untuk itu, tidak logis jika umat Islam merasa paling benar karena kebenaran adalah keyakinan personal bukan kolektif. Islam bukan lembaga dan tidak di wajibkan untuk melembagakannya. Karena sebagai Ruh Dunia, Islam tidak mungkin dilembagakan. Pelembagaan Islam hanya menjadikannya seperti benda materi yang tidak dapat menyatu dengan benda lain yang tidak sama. Akan tetapi, jika Islam tetap dalam posisi sebagai ruh, maka tentu dapat menyatu dengan benda apapun tanpa terjadi pertentangan. Inilah maksud Islam rahmatallil alamin. 
      Mungkin begitulah CakNur, yang di akui atau tidak, merupakan bagian dari fondasi Islam kedepan dalam memberi jawaban terhadap permasalahan yang semakin rumit. Meskipun tidak sedikit yang meragukan kredibelitas dari dasar yang beliau pergunakan, tetapi itu tidak penting!. Karena yang perlu di pahami adalah pesan yang tersimpan dalam gagasan tersebut. Pada intinya, CakNur sangat memimpikan keselarasan Islam dengan perilaku kehidupan. Sesuatu yang membuat penulis heran adalah ucapan beliau, “saya memimpikan Masyumi pada masa Moh. Natsir.”???

Jumat, 31 Mei 2013

Semak Belukar



Logika Minimalis


Sesungguhnya kebenaran dapat dengan mudah di pahami meskipun dengan logika yang teramat minim. Misalkan dengan logika matematika dasar seperti:
  • 1 + 2 = 3
Jika tetap dengan logika yang searah maka :
  • 2 + 1 = 3
Benarkah hasil penjumlahan 1 dan 2 adalah 3 ?
Mari kita gunakan logika terbalik. Tambah (+) adalah antonim dari kurang (-). Begini jadinya:

  • 3 – 2 = 5 ( mustahil) 
  • 3 – 1 = 4 ( mustahil)

Yang benar adalah: 

  •  3 – 2 = 1 ( benar ) 
  •  3 – 1 = 2 ( benar )

Jadi memang penjumlahan angka 1 dan 2 adalah 3. ini merupakan kebenaran yang tidak dapat dibantah lagi. Karena dalam kondisi apapun tidak ada jawaban lain kecuali dengan angka 3.
Kita juga dapat menggunakan logika seperti ini : “ semua yang hidup adalah hewan dan semua yang berbicara adalah manusia. Hasilnya : “manusia adalah hewan yang dapat berbicara”.  Untuk memberikan penekanan apakah benar pernyataan tersebut kita gunakan logika sbb: 
  • Semua yang hidup adalah hewan dan semua yang berbicara adalah sapi. Kesimpulan: sapi adalah hewan yang dapat berbicara. ( mustahil).
  • Semua yang hidup adalah hewan dan sebagian yang berbicara adalah manusia. Kesimpulan: sebagian hewan yang dapat berbicara adalah manusia (mustahil). Karena tidak ada yang dapat berbicara kecuali manusia. 
  • Sebagian yang hidup adalah hewan dan semua yang dapat berbicara adalah manusia. Kesimpulan: sebagian manusia adalah hewan yang dapat berbicara. ( mustahil). Karena keumuman manusia dapat berbicara. 
  • Sebagian yang hidup adalah hewan dan sebagian manusia dapat berbicara. Kesimpulan: sebagian manusia adalah hewan yang dapat berbicara. (mustahil). karena keumuman manusia dapat berbicara.
Jadi dalam kondisi apapun pernyataan pernyataan yang benar adalah “semua manusia adalah hewan yang dapat berbicara”.  Logika ini merupakan kebenaran yang tidak dapat dibantah lagi.
Lantas bagaimana untuk mengetahui kebenaran tentang Tuhan???  Mari kita gunakan logika spt ini: 
  • Semua yang ada berasal dari tidak ada. Semua yang tidak ada berasal dari yang ada. Kesimpulan: semua yang ada berasal dari hal yang lebih ada ( telah ada sebelumnya).

Coba gunakan logika terbalik: 
  • Semua yang tidak ada berasal dari yang ada. Semua yang ada berasal dari yang tidak ada. Kesimpulan: semua yang tidak ada berasal dari yang tidak ada. ( mustahil). Ini omongan kosong!!!
Kemudian kita gunakan ini: 
  • Atom adalah hal yang ada. Atom adalah awal dari terjadinya mikrokosmos. mikrokosmos adalah satuan pembentuk makrokosmos ( jagad raya).  Kesimpulan:  makrokosmos adalah hal yang ada.

Coba gunakan logika terbalik: 
  • Atom adalah hal yang tidak ada. Atom adalah bukan awal dari mikrokosmos. Mikrokosmos adalah bukan satuan pembentuk makrokosmos/jagad raya. Kesimpulan: makrokosmos adalah hal yang tidak ada. ( mustahil).
Dari kesemua logika yang sangat minimal tersebut di atas menunjukkan bahwa kebenaran adalah hal yang sebenarnya mudah untuk ditemukan. Tidak ubahnya dengan kebenaran Tuhan yang tersebar di jagad raya ini. Tinggal bagaimana kita dapat mencerna ayat-ayat yang tersirat. Dan itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang berkehendak dan bersungguh-sungguh. Lantas “apakah kau tidak menyaksikan bukti2 kebesaran Tuhanmu!!!! maka jika engkau merasa paling benar, cobalah engkau membuat satu ayat saja yang dapat menyamai ayat Tuhanmu!!!

***sumber http://www.facebook.com/notes/cak-tar/logika-minimalis/656487257699986