Penalaran yang salah terhadap sesuatu seringkali menjadikan kesimpulan dan
keyakinan yang kurang pas. Ini tidak terkecuali terjadi dalam Islam. jargon rahmatan
lil ‘alamin sering menjadi dalih ampuh untuk menolak argumen musuh ( lebih
tepatnya dianggap musuh). Penalaran tentang rahmatan lil ‘alamin
diasumsikan sebagai doktrin yang mengikat dan memaksa. Sehingga dalam aplikasi
di lapangan, Islam tidak saja memberi jalan kebenaran akan tetapi juga sebagai
keharusan kebenaran. Kebenaran mutlak yang tidak boleh dibantah oleh siapapun
dan dengan analisa apapun. tidak boleh dikritik apalagi dilawan. Seolah-olah
islam adalah algojo yang menakutkan.
Apakah arti rahmat adalah kebenaran? Tentu harus dibedakan antara kata
rahmat dan kebenaran. Rahmat yang secara bahasa sering diartikan sebagai kasih
sayang sudah pasti akan berbeda aplikasinya jika disandingkan dengan kebenaran.
Jadi rahmatan lil ‘alamin memang tidak pas jika diaplikasikan sebagai doktrin
kebenaran yang harus diterima oleh siapapun.
Disisi lain, rahmatan lil ‘alamin jika dibandingkan dengan penalaran
bahwa Islam adalah inspirasi kebenaran yang menggerakkan logika kebenaran. Arti
logika kebenaran adalah Islam yang menjadi pemandu dalam memperoleh kebenaran
sehingga konstituen benar-benar menerima Islam dengan penuh kesadaran. Tanpa
kebodohan akibat paksaan.
Komparasi antara penalaran doktrin kebenaran dan logika kebenaran, maka
sangat jauh panggang dari api. Kebenaran agama adalah hal yang tidak begitu
saja dapat diterima. Ini karena agama merupakan bagian dari keyakinan yang
digerakkan oleh perasaan manusia. Anak yang dilahirkan dari orang tua yang
muslim kemungkinan besar dia akan menjadi muslim juga. Tetapi apakah kualitas
keislaman anak dapat dikatakan sama dengan orang tuanya?. Disinilah logika
kebenaran akan sangat terasa. Perbandingan Islam yang diyakini atas dasar
bimbingan orang tua dengan keputusan menjadi pemeluk setia atas dasar kesadaran
dapat dibedakan.
Walau bagaimanapun bagian dari prinsip empirisme tidak dapat diabaikan
begitu saja. Interaksi orang tua dan anak menjadikan hal yang paling
berpengaruh dalam menentukan anak dalam memutuskan agama apa yang akan dia
peluk. Meskipun manusia terlahir fitrah ( berpotensi ) tapi tidak begitu saja
menjadi kompetensi. Tentunya, memerlukan interaksi yang kuat untuk dapat
mengeluarkan potensi menjadi kompetensi. Jadi jelas, tingkat keislaman anak
tersebut bisa dikatakan hanya sebab orang tua yang muslim.
Lain halnya dengan ketika seorang yang memeluk Islam karena sesuatu yang
membuat dia kagum. Ahli sains yang meneliti obyek yang ada didalam dunia dan
menemukan kesimpulan yang tepat. Ternyata kesimpulan tersebut telah lebih dulu
diutarakan oleh islam. bagaimana mungkin Islam yang turun sebelum berkembangnya
sains dapat memberi kesimpulan tanpa melakukan eksperimen? sontak tingkat
kesadarannya akan kebenaran islam mendorong rasa dan akalnya untuk membenarkan
kebenaran yang terdapat dalamnya. Kesadaran terhadap Islam seperti ini tentu
tidak perlu diragukan lagi kualitasnya.
Kesadaran-kesadaran inilah sebenarnya yang diinginkan oleh Tuhan terhadap
hamba-hambaNya. Hal itu terbukti, menurut penelitian Ibnu Rusyd, bahwa
ayat-ayat Alqur’an yang memuat perintah untuk menggunakan daya berfikir lebih
banyak daripada perintah ibadah atau yang lain. Tuhan menjadikan jagad raya
sebagai bahan penelitian untuk menemukan kebenaran. Tuhan mengarahkan manusia
untuk menjadikan kesadaran terhadap Islam tidak hanya Islam sebagai
jalan kesadaran.
Islam sebagai logika kebenaran merupakan bagian terpenting dari aplikasi rahmatan
lil ‘alamin. Jadi Islam, adalah agama yang memberikan kebebasan terhadap
manusia untuk menemukan kebenarannya. Islam sangat menyayangi manusia sehingga
untuk menjadikan sebagai pemeluknya, harus dengan kesadaran tanpa paksaan. Ini
sebagai bukti bahwa Islam sangat menjujung tinggi martabat manusia. Islam yang rahmatan
lil ‘alamin. Yang memanusiakan manusia sebagai makhluk yang
dapat berfikir. Bukan memperbudak manusia laksana hewan yang tidak dapat
berfikir.